
Mencermati dinamika sosial dan keresahan yang berkembang luas di tengah masyarakat, khususnya umat Islam, terkait viralnya atraksi seni budaya dalam gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Di mana atraksi tersebut secara terang-terangan mengeksploitasi simbol-simbol yang identik dengan ritual satanisme, paganis, serta melakukan visualisasi teatrikal penyembelihan hewan yang tidak sesuai syariat. Terlebih acara tersebut diselenggarakan dalam momentum menyambut bulan suci Maulid Nabi Muhammad SAW.
Maka dengan ini, Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:
Mengecam Keras Penggunaan Simbol dan Atribut Satanisme
BKsPPI mengecam keras segala bentuk visualisasi, simbolisasi, dan adegan teatrikal yang mengadopsi budaya kaum pagan dan pemuja setan (satanic). Hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai tauhid, syariat Islam, mencederai kesucian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta merusak tatanan moral religius masyarakat Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Santri.
Menolak Penyembelihan Hewan yang Menyimpang dari Syariat
Kami memprotes keras aksi teatrikal pemotongan leher kambing di atas altar tiruan yang menyerupai ritual pengorbanan sekte gelap. Islam melarang keras penyiksaan terhadap hewan (ihsan fil qatl) dan melarang penyembelihan yang diniatkan atau diserupakan untuk selain Allah SWT (perbuatan syirik).
Mendesak Klarifikasi, Edukasi, dan Pengawasan Ketat Pemda serta MUI
Meskipun pihak panitia dan peserta telah menyampaikan permohonan maaf dan mengaku tindakan tersebut lahir dari “kurang literasi” atau sekadar meniru tren. BKsPPI mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat untuk melakukan investigasi, memberikan edukasi mendalam, serta memperketat pengawasan terhadap seluruh kegiatan publik berbasis masa agar tidak menyusupkan konten penistaan agama di masa mendatang.
Mengimbau Evaluasi Total dalam Ekspresi Seni Budaya Islam
Menghimbau kepada seluruh panitia hari besar Islam, lembaga adat, karang taruna, dan seniman muslim di seluruh penjuru tanah air untuk lebih selektif dan bijaksana dalam merancang kreativitas. Ekspresi kegembiraan menyambut maulid atau syiar Islam harus diisi dengan tradisi mulia yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti bershalawat, membaca Al-Qur’an, santunan, dan mempererat silaturahmi—bukan dengan visualisasi makhluk gaib yang mengerikan apalagi menyerupai sekte sesat.
Mengajak Umat Menjaga Kondusivitas dan Tidak Main Hakim Sendiri
Kami mengimbau kepada seluruh umat Islam, khususnya para santri dan pemuda, untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas, tidak terprovokasi, dan menyerahkan proses tabayun serta pembinaan kepada para ulama, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum.
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan demi menjaga kemurnian aqidah umat Islam, marwah syiar maulid, serta keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.


